Sepatah Kata Untuk Ayah Dan Ibu :)
Ayah-Ibu …
Tahukah ayah kalau aku bangga memiliki ayah?
Semua yang kualami saat kita bersama adalah untuk kebaikanku, hanya untuk kebaikan kita semua.
Meskipun
ketika itu aku masih kecil, kita harus sama-sama bekerja karena engkau
ingin kami juga bekerja. Ayah menyuruh disaat aku sedang tidak ingin
disuruh, ayah membentak ketika aku bersalah dan mengatakan
kesalahan-kesalahanku. Ingatkah ayah ketika menyatakan kesalahanku
kepadaku seorang? Ingatkah ayah ketika ayah mengajari kami mulai
membaca dan berhitung? Aku masih ingat itu. Bagiku, ayah kadang terlalu
keras kepada kami. Ayah mengatakan agar kami melakukan ini dan itu
padahal teman-teman kami tidak melakukan ini dan itu. Mereka bebas
sebebas-bebasnya, mereka tidak bekerja, mereka bermain disaat orangtua
mereka bekerja sedangkan kami? Kami harus mengikut ayah dan ibu untuk
ikut bekerja? padahal kita adalah keluarga yang berkecukupan, kami
tidak perlu membantu ayah ibu bekerja untuk menambah uang? Lalu ketika
kami meminta untuk ikut ke pasar ayah dan ibu mengatakan lebih baik
kami tinggal saja di rumah karena disana hanya akan membuat kami merasa
tidak nyaman. Ketika kami ingin dibelikan mainan seperti karet gelang,
ayah dan ibu tidak belikan kepada kami. Entah mengapa, menurutku ayah
dan ibu punya uang untuk membelikannya, karena lauk kita lebih enak
dibandingkan lauk teman-temanku yang memiliki karet gelang sekantong
plastik hitam.
Lalu
ibu datang kepada kami mengatakan kalau kami bisa membuat mainan
sendiri, untuk menyenangkan hati kami ibu bercerita tentang masa kecil
ibu, melukis menggunakan pewarna dari bunga-bunga dan daun-daun
berwarna. Banyak permainan yang lebih menyenangkan daripada bermain
untuk bersaing, kami bisa bermain petak umpet, tebak-tebak orang,
mencari jenis-jenis daun terbanyak. Kamipun melakukannya dan rasanya
tidak lebih baik bermain karet gelang. Kami melupakan semua permintaan
kami.
Sejak
saat itu kami tidak pernah meminta kepada ayah dan ibu, sebab kami
menyerah ayah dan ibu tidak akan memenuhi apa yang kami inginkan. Kami
melupakan semua permintaan-permintaan kami, karena semakin lama kami
lelah bermain karet gelang, kami main petak umpet lalu beralih ke
permainan lain. Selain kami menyukai permainan ini. Dalam kelupaan
kami, ayah dan ibu memberikan kami tas kecil bergambar dan mainan
mobil-mobilan. Wah, kami sangat bersukacita. Tidak pernah terpikir oleh
kami bahwa ayah dan ibu memberikan lebih dari karet gelang.
Bagiku
ini adalah kejutan luar biasa, kami meminta tetapi ayah menolak dan
disaat kami tidak meminta ayah memberi, pemberian ayah lebih dari apa
yang kami minta. Sesuatu yang tidak kami duga-duga. Ayah dan ibu
memberikan lebih dari apa yang kami inginkan, tetapi sesuatu yang kami
butuhkan yang lebih berguna. Disaat kami menginginkan tas baru, ayah
dan ibu mengatakan tidak ada uang membeli tas baru karena memang tas
kami masih bisa digunakan, hanya saja kami tergiur karena teman-teman
memiliki tas baru mereka. Kami diam dan ayah ibu memberikan kami jam
tangan yang kami sukai, lebih dari tas baru itu. Kami memiliki dua buah
baju natal setiap tahunnya… itu sangat menyenangkan.
Terkadang
ayah bagiku sangat menakutkan, disaat-saat ayah marah. Aku sangat benci
saat-saat seperti itu. Rasanya seperti ada disebuah tempat pengasingan
dimana hanya ada kesepian. Ayah diam, ibu diam dan semua tidak berani
berbicara, kelu dan lengang. Bahkan masakan terenak ibu berubah seperti
masakan basi. Kadang aku berharap ayah tidak melakukan hal-hal seperti
itu lagi.
Ayah,
tahukah ayah, bagiku. Ayah adalah pribadi yang mengagumkan disamping
kemarahan-kemarahan ayah, tetapi kemarahan ayah kadang baik bagiku.
Setelah aku pikir-pikir. Ayah mengasihi kami tidak dengan perkataan
seperti ibu menasehati kami lemah lembut tetapi dengan perlakuan. Ayah
membentak kami karena ayah percaya kami bisa melakukan apa
yang ayah ingin kami lakukan dan memang setelah bentakan itu kami mampu
melakukannya, tidak perlu kata-kata yang menurutnya berlebihan. Malah
dengan cara keras dan disiplin.